BALIKPAPAN, Berandakaltim.com – Tingginya kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kota Balikpapan menjadi perhatian Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Balikpapan, Muhammad Hamid.
Ia mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan bersama seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat langkah-langkah pencegahan agar angka kasus tidak terus meningkat.
Hamid mengaku prihatin karena Balikpapan menempati urutan kedua di Kalimantan Timur dengan jumlah kasus HIV terbanyak setelah Samarinda.
“Kami sangat prihatin dengan tingginya kasus HIV yang terjadi di Balikpapan. Bahkan, Balikpapan menjadi daerah dengan jumlah kasus HIV terbanyak kedua di Kalimantan Timur setelah Kota Samarinda,” kata Hamid usai menghadiri rapat paripurna DPRD Kota Balikpapan, Senin (6/7/2026).
Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mengatakan, persoalan HIV perlu menjadi perhatian serius semua pihak, terutama karena sebagian kasus ditemukan pada kelompok usia muda. Menurutnya, pengawasan dari keluarga, lingkungan, serta edukasi kepada remaja harus terus diperkuat.
Sebagai wakil rakyat sekaligus orang tua, Hamid meminta instansi terkait dan seluruh pemangku kepentingan meningkatkan pengawasan serta memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya kalangan remaja.
“Kami mendorong Dinas Kesehatan Kota Balikpapan agar menghadirkan program-program nyata yang langsung dirasakan masyarakat, terutama dalam upaya pencegahan penyebaran HIV,” ujarnya.
Hamid mengingatkan bahwa HIV yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), yakni kondisi ketika sistem kekebalan tubuh melemah sehingga penderitanya rentan terhadap berbagai infeksi dan komplikasi serius.
Ia berharap pemerintah dapat menyampaikan langkah-langkah konkret kepada masyarakat sebagai bentuk komitmen dalam menekan laju penyebaran HIV di Balikpapan.
“Paling tidak ada kinerja yang nyata dan konkret untuk disampaikan kepada masyarakat agar tidak terjadi peningkatan kasus HIV yang semakin besar di Balikpapan,” tegasnya.
Hamid juga menilai banyak penderita HIV tidak menunjukkan gejala secara kasat mata sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Karena itu, ia menekankan pentingnya pengawasan terhadap anak-anak, terutama melalui peran keluarga.
“Kita harus memperkuat pengawasan terhadap anak-anak kita, terutama dari lingkungan keluarga. Itu yang perlu kita tekankan dan terapkan,” pungkasnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, hingga Oktober 2025 tercatat sebanyak 1.018 kasus baru HIV di provinsi tersebut. Jumlah itu relatif konsisten dengan rata-rata penemuan kasus baru setiap tahun yang mencapai lebih dari seribu kasus.
Samarinda masih menjadi daerah dengan jumlah kasus baru tertinggi, disusul Balikpapan, Bontang, Kutai Kartanegara, serta kabupaten dan kota lainnya. Kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) masih menjadi kelompok dengan jumlah kasus terbanyak.
Selain itu, tingginya mobilitas penduduk dan aktivitas ekonomi di kota-kota besar disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penyebaran HIV.
Sepanjang Januari–Juli 2025, Samarinda mencatat 209 kasus baru, sedangkan Balikpapan melaporkan 167 kasus. Pada pertengahan 2026, jumlah temuan kasus di Samarinda disebut telah mencapai sekitar 180 kasus.
Sementara itu, Kota Bontang mencatat 40 kasus baru, Kabupaten Kutai Kartanegara 31 kasus, sedangkan Kabupaten Paser, Berau, Penajam Paser Utara, Kutai Barat, dan Mahakam Ulu masing-masing mencatat kurang dari 25 kasus baru. (*/fa/ra)