BALIKPAPAN, Berandakaltim.com – Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kalimantan Timur masih menjadi persoalan kesehatan yang serius. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur mencatat temuan kasus baru HIV berkisar 1.000 hingga 1.100 kasus setiap tahun, dengan Kota Samarinda dan Balikpapan menjadi daerah penyumbang tertinggi.
Berdasarkan data Dinkes Kaltim, hingga Oktober 2025 telah ditemukan sebanyak 1.018 kasus baru HIV. Angka tersebut relatif konsisten dengan rata-rata temuan tahunan di provinsi ini yang mencapai lebih dari seribu kasus.
Sebaran kasus baru menempatkan Samarinda di posisi pertama, disusul Balikpapan, Bontang, Kutai Kartanegara, dan kabupaten/kota lainnya. Kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) masih menjadi kelompok dengan jumlah kasus terbanyak.
Tingginya mobilitas penduduk serta aktivitas ekonomi disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penyebaran kasus, terutama di kota-kota besar.
Di Samarinda, tercatat 209 kasus baru sepanjang Januari–Juli 2025. Sementara pada pertengahan 2026, jumlah temuan baru telah mencapai sekitar 180 kasus.
Balikpapan mencatat 167 kasus baru pada periode Januari–Juli 2025. Adapun Kota Bontang melaporkan 40 kasus baru dan Kabupaten Kutai Kartanegara sebanyak 31 kasus. Sementara Kabupaten Paser, Berau, Penajam Paser Utara, Kutai Barat, hingga Mahakam Ulu masing-masing mencatat kurang dari 25 kasus.
Dinkes Kaltim menegaskan bahwa meningkatnya jumlah temuan bukan semata-mata menunjukkan lonjakan penularan baru. Peningkatan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh semakin masifnya pelaksanaan skrining dan deteksi dini sehingga banyak kasus lama yang sebelumnya belum teridentifikasi kini berhasil ditemukan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus mengintensifkan upaya pencegahan, edukasi, pemeriksaan dini, hingga pengobatan bagi orang dengan HIV. Selain itu, pemerintah juga berupaya mengurangi stigma terhadap penderita agar masyarakat tidak ragu melakukan pemeriksaan maupun menjalani pengobatan.
Meski demikian, tingginya angka kasus HIV di Balikpapan menjadi perhatian masyarakat. Mereka menilai upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah daerah belum terlihat optimal.
“Sangat prihatin sekali kami melihat tingginya jumlah penderita HIV di Balikpapan. Kalau kami perhatikan, seolah belum terlihat adanya upaya pencegahan yang dilakukan Dinas Kesehatan Balikpapan,” ujar Ridwan, Senin (6/7/2026).
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, belum memberikan tanggapan atas sorotan tersebut. Saat ditemui wartawan usai menghadiri rapat paripurna DPRD Kota Balikpapan di Hotel Gran Senyiur, Senin (6/7/2026), ia memilih tidak memberikan komentar.
Bagi masyarakat yang ingin memperoleh informasi maupun layanan pemeriksaan HIV, pemerintah mengimbau agar memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia serta mengakses layanan resmi Dinas Kesehatan sesuai wilayah masing-masing. (*/fa/ra)