Bagikan 100 Kacamata Gratis, Stan Perdami Diserbu Warga

BALIKPAPAN, Berandakaltim.com – Dari 29 stan pelayanan kesehatan yang dibuka di puncak peringatan Hari Dokter Indonesia ke-76 yang digelar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Balikpapan di Dome, Jalan Ruhui Rahayu I, Balikpapan Selatan, pada Minggu (25/10/2026), stan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Cabang Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltim-Kaltara) menjadi salah satu yang paling ramai dikunjungi.

Tingginya minat masyarakat itu tidak lepas dari kebutuhan pemeriksaan kesehatan mata yang terjangkau, ditambah penyediaan atau pembagian 100 kacamata baca gratis bagi peserta yang memenuhi kriteria.

Ketua Panitia Stan Perdami Kaltim-Kaltara, dr. Ferdi Kurniawan, Sp.M mengatakan, pihaknya menyiapkan 100 kacamata baca gratis untuk peserta yang telah menjalani pemeriksaan dan memenuhi kriteria medis yang ditentukan tim dokter.

Jumlah tersebut menjadi salah satu daya tarik kegiatan, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa bantuan kacamata tidak dapat diberikan kepada seluruh pendaftar. Dengan hampir 400 warga tercatat mengikuti layanan, jumlah kacamata yang tersedia hanya mencakup sebagian dari total peserta.

Ferdi menyebutkan, pihaknya menargetkan dapat melayani sekitar 200 orang pada hari pelaksanaan. Target tersebut diharapkan dapat tercapai, meskipun antusiasme masyarakat cukup tinggi dan waktu pelayanan terbatas.

“Intinya, hari ini di stan Perdami Kaltim-Kaltara dilakukan pemeriksaan kesehatan mata, pengukuran kacamata, konsultasi dokter, dan pembagian 100 kacamata baca secara gratis bagi peserta yang memenuhi kriteria,” kata Ferdi.

Ia menjelaskan, peserta terlebih dahulu menjalani registrasi, kemudian pemeriksaan menggunakan peralatan untuk mengukur kebutuhan kacamata. Setelah itu, peserta berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan tindak lanjut yang diperlukan.

“Peserta yang memenuhi kriteria untuk menerima kacamata baca gratis akan mendapatkannya sesuai dengan ketersediaan yang disiapkan panitia,” ungkapnya.

Ketua Perdami Kaltim-Kaltara, dr. Eka Falintina Wati Sp.M (kanan) bersama Ketua Stan Perdami, dr. Ferdi Kurniawan Sp.M foto bareng di depan booth Perdami Kaltim-Kaltara.

Sementara itu, Ketua Perdami Cabang Kaltim-Kaltara, dr. Eka Falintina Wati, Sp.M, mengungkapkan hampir 400 warga telah terdaftar untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mata di stan tersebut. Jumlah itu menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pemeriksaan mata yang mudah diakses.

Namun, tingginya jumlah pendaftar juga menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, kegiatan pelayanan hanya berlangsung hingga pukul 11.00 WITA, sehingga tim dokter harus mengupayakan pelayanan optimal dalam waktu yang terbatas.

Gangguan Penglihatan Masih Jadi Persoalan

Eka mengatakan, keterlibatan Perdami dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab organisasi profesi dokter mata untuk memperluas akses pelayanan kesehatan mata bagi masyarakat, termasuk kelompok yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan.

Menurut dia, persoalan gangguan penglihatan masih menjadi tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian, baik di tingkat nasional maupun di wilayah Kaltim-Kaltara. Katarak dan kelainan refraksi, termasuk yang dialami anak usia sekolah, menjadi dua persoalan yang disorot.

“Gangguan penglihatan di Indonesia sendiri, dan di Kaltim-Kaltara, masih merupakan problem utama, terutama katarak. Yang kedua adalah gangguan visus refraksi pada anak sekolah. Itu cukup tinggi di Indonesia dan di Kaltim-Kaltara,” jelasnya.

Kelainan refraksi merupakan kondisi ketika cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus secara tepat pada retina, sehingga menyebabkan penglihatan kabur atau kurang tajam. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk proses belajar anak apabila tidak terdeteksi dan dikoreksi dengan tepat.

Karena itu, Eka menegaskan, program pelayanan Perdami tidak hanya berorientasi pada kegiatan pemeriksaan sesaat, tetapi juga diarahkan untuk membantu masyarakat mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini.

“Makanya program kita fokus pada itu, operasi katarak gratis sama pemeriksaan visus refraksi, seperti kegiatan hari ini,” ujarnya.

Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud (2 dari kiri) melakukan peninjauan di stan Perdami Kaltim-Kaltara didampingi Ketua PKK Balikpapan dan sejumlah pejabat Pemkot Balikpapan.

Dalam kegiatan tersebut, pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan ketajaman penglihatan, pemeriksaan awal kondisi mata, pengukuran kebutuhan kacamata, serta konsultasi dengan dokter spesialis mata. Sementara itu, pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut akan diarahkan ke rumah sakit melalui mekanisme rujukan.

Eka menegaskan, kegiatan tersebut juga ditujukan untuk membantu masyarakat kurang mampu, termasuk mereka yang tidak memiliki BPJS Kesehatan, agar tetap memperoleh akses pemeriksaan awal tanpa harus langsung datang ke rumah sakit.

“Kalau kasusnya ringan-ringan, bisa terselesaikan. Tapi kalau membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut atau ada kondisi yang lebih serius, pasien harus ke rumah sakit dan kita buat rujukan. Jadi intinya, kita melakukan skrining,” tandasnya.

Dibukanya stan Perdami Kaltim-Kaltara mendapat sambutan positif warga Balikpapan. Warga Sepinggan Balikpapan, Ratnawati, mengaku terbantu dengan adanya kegiatan tersebut. Ia dapat memeriksakan kondisi matanya tanpa dipungut biaya sekaligus memperoleh kacamata baca gratis.

“Senang sekali dan sangat terbantu. Saya bisa memeriksakan kesehatan mata saya di stan ini secara gratis. Alhamdulillah, tadi juga dapat kacamata baca gratis,” ujar Ratna.

Tingginya jumlah warga yang mendaftar menjadi gambaran pentingnya pelayanan kesehatan mata yang mudah dijangkau. Namun, kegiatan sosial dengan waktu dan fasilitas terbatas juga menegaskan perlunya pelayanan berkelanjutan agar pemeriksaan awal tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

Pemeriksaan gratis dapat menjadi pintu masuk untuk mendeteksi gangguan penglihatan. Tantangan berikutnya adalah memastikan pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan memperoleh akses pengobatan, termasuk bagi warga yang terkendala biaya dan kepesertaan jaminan kesehatan.

Dengan demikian, keberhasilan pelayanan kesehatan mata tidak semata-mata diukur dari jumlah warga yang diperiksa atau kacamata yang dibagikan, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat yang membutuhkan benar-benar mendapatkan penanganan sesuai kondisi medisnya. (*/fa/ra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *