BALIKPAPAN, Berandakaltim.com – Penerapkan teknologi surface desander untuk mengatasi persoalan pasir terproduksi pada Sumur N-317L berhasil dilakukan PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) di Lapangan Nilam, Wilayah Kerja (WK) Sanga Sanga, Kalimantan Timur. Penerapan teknologi tersebut berhasil meningkatkan rata-rata produksi minyak sumur tersebut dari 72 menjadi 159 barel per hari (BOPD).
Produksi pasir atau sand production merupakan salah satu tantangan yang dihadapi pada lapangan migas yang sudah mature. Pasir dari dalam reservoir dapat terbawa bersama fluida produksi hingga ke permukaan dan berpotensi mengganggu fasilitas produksi. Karena itu, pengelolaan pasir menjadi salah satu langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan produksi dan mengoptimalkan kinerja sumur.
Manager PHSS Field, Teddy Indrawan menyatakan, bahwa penerapan teknologi surface desander pada Sumur N-317L menjadi momentum penting dalam upaya PHSS untuk menjawab tantangan operasional pengelolaan lapangan-lapangan migas yang sudah mature.
“Kami menerapkan inovasi dan teknologi sebagai langkah strategis Perusahaan dalam menahan laju penurunan produksi, meningkatkan recovery rate, serta mempertahankan tingkat produksi lapangan-lapangan migas yang sudah mature di wilayah Kalimantan, khususnya WK Sanga Sanga,” kata Teddy, dalam keterangan resminya, Rabu (7/10/2026).
Teddy menjelaskan, secara sederhana, surface desander berfungsi memisahkan pasir dari aliran produksi dengan memanfaatkan gaya sentrifugal. Partikel pasir yang lebih berat dipisahkan dan dikumpulkan, sementara fluida produksi melanjutkan alirannya. Pasir yang terkumpul kemudian dipindahkan secara berkala untuk dikelola sesuai ketentuan yang berlaku.
Pada Sumur N-317L, menurut Teddy, pasir yang terbawa bersama aliran produksi membatasi optimalisasi produksi. Meskipun telah menggunakan perangkat penyaring pasir, masih terdapat pasir yang mencapai permukaan sehingga produksi pasir harus dikelola agar tidak memengaruhi aliran produksi.
”Kami mengkaji karakteristik pasir, kondisi sumur, serta pilihan teknologi penanganan pasir. Hasilnya mengarah pada penggunaan surface desander sebagai solusi untuk Sumur N-317L karena memungkinkan pasir yang terbawa bersama aliran produksi dipisahkan di permukaan sebelum fluida produksi melanjutkan prosesnya,” jelasnya.
Dalam penerapan surface desander tercatat sekitar 5–7 kilogram pasir per hari yang kemudian dikelola sesuai prosedur yang berlaku. Pada saat yang sama, pemantauan kondisi fasilitas dilakukan secara berkala dan hasil penerapan menunjukkan tidak adanya permasalahan integritas pada peralatan.
“Keberhasilan penerapan surface desander di sumur N-317L menjadi dasar bagi upaya optimalisasi produksi sumur-sumur migas yang sangat penting dalam mendukung ketersediaan dan ketahanan energi nasiona, terutama dari Wilayah Kerja Sanga Sanga,” pungkasnya. (*/fa/ist)