BALIKPAPAN, Berandakaltim.com – Proyek peningkatan saluran sekunder Inhutani lanjutan yang menelan anggaran Rp19,16 miliar di Jalan MT Haryono, Balikpapan, menuai sorotan masyarakat.
Proyek itu dipertanyakan karena sejumlah bagian pekerjaan dinilai janggal dan dikhawatirkan tidak mampu menjawab persoalan banjir di kawasan tersebut.
Sorotan mengemuka setelah warga melihat pengerjaan penutupan drainase menggunakan bondex sebelum dilakukan pengecoran beton. Jarak antara lantai drainase dengan permukaan yang akan dicor dinilai terlalu pendek.
Selain itu, ketinggian penutup drainase dengan jembatan yang berada di lokasi terlihat tidak seimbang. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai perencanaan ketinggian saluran dan efektivitasnya dalam mengalirkan air saat hujan deras.
“Kalau saya lihat, proyek ini cukup aneh ya. Ketinggian penutup drainase tampak pendek yang dikhawatirkan tidak bisa menampung air saat hujan turun. Kondisi ini bisa saja tak menuntaskan persoalan banjir,” kata Alexander kepada media ini, Kamis (17/9/2026).
Ia menilai, apabila pembangunan tersebut memang ditujukan untuk menangani banjir, ketinggian badan jalan dan penutup drainase semestinya direncanakan secara proporsional agar tidak menimbulkan persoalan baru.
“Kalau maksudnya untuk menangani banjir, harusnya antara badan jalan dan penutup drainase disejajarkan, bukan lebih rendah dari jalan,” ujarnya.
Trotoar Tinggi, Warga Pertanyakan Prioritas Proyek
Tak hanya persoalan drainase, Alexander juga mempertanyakan hasil pembangunan trotoar di kawasan tersebut. Menurutnya, trotoar yang baru dikerjakan terlihat tinggi dan sejajar dengan jembatan, sehingga menimbulkan kesan kurang proporsional.
Ia bahkan mempertanyakan apakah proyek bernilai miliaran rupiah tersebut benar-benar berorientasi pada penanganan banjir atau justru lebih menitikberatkan pada penataan trotoar.
“Akibatnya, trotoar yang sudah jadi digunakan warga untuk memarkirkan kendaraannya. Ini kan konyol. Proyek ini sebenarnya untuk menangani banjir atau mempercantik trotoar?” ucapnya.
Sorotan warga tersebut menjadi catatan penting bagi Dinas Pekerjaan Umum (PU) Balikpapan, terutama dalam memastikan pembangunan infrastruktur drainase tidak hanya terlihat selesai secara fisik, tetapi juga berfungsi sesuai tujuan awalnya.
Dinas PU: Ketinggian Sudah Diperhitungkan
Menanggapi sorotan tersebut, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) dan Drainase Dinas PU Balikpapan, Jen Supriyanto, menegaskan bahwa seluruh pekerjaan telah melalui perhitungan teknis.
Ia menyebut gambar perencanaan dari konsultan sudah mencakup pelebaran dan peninggian saluran. Karena itu, menurutnya, kondisi pekerjaan tidak dapat dinilai hanya berdasarkan pengamatan sekilas.
“Proyek itu sudah ada hitungannya semua. Bahkan, gambar dari konsultan sudah ada pelebaran dan peninggian, tidak bisa dilihat hanya sekilas,” jelas Jen saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
Terkait perbedaan ketinggian antara penutup drainase dan jembatan, Jen menjelaskan bahwa jembatan memiliki konstruksi lebih tebal karena terdiri atas dua lapisan.
“Kemudian yang tutup itu kelihatan lebih tinggi jembatan, karena jembatan itu lebih tebal. Kalau tingginya sama, kalau jembatan lebih tebal karena dia ada dua lapis,” katanya.

Jen juga menegaskan bahwa ketinggian bagian bawah konstruksi bondex telah disesuaikan dengan jembatan. Menurutnya, perbedaan yang terlihat berada pada bagian atas konstruksi.
“Gambar sudah jelas semua. Gak mungkin kita lebih kecil, lebih pendek,” tegasnya.
Ketinggian Akhir Menunggu Pekerjaan Trotoar
Jen menjelaskan, kondisi ketinggian yang terlihat saat ini belum merupakan hasil akhir pekerjaan. Masih terdapat pekerjaan lanjutan berupa pembangunan trotoar yang akan memengaruhi elevasi permukaan di kawasan tersebut.
Menurutnya, setelah pengecoran di atas bondex selesai, bagian tersebut akan ditimbun untuk menyesuaikan ketinggiannya dengan jembatan atau badan trotoar.
Dengan demikian, perbedaan ketinggian yang saat ini terlihat, kata dia, akan disesuaikan setelah pekerjaan trotoar dilaksanakan.
Penjelasan tersebut menjadi jawaban Dinas PU atas kekhawatiran warga. Namun, efektivitas desain drainase dalam mengatasi banjir tetap menjadi hal yang perlu dibuktikan melalui hasil akhir pembangunan dan fungsi saluran di lapangan.
Disiapkan Manhole untuk Penanganan Sedimentasi
Mengenai kekhawatiran terjadinya sedimentasi atau penumpukan material di dalam saluran, Jen mengatakan bahwa proyek tersebut juga dilengkapi manhole.
“Fasilitas ini berfungsi sebagai akses bagi petugas untuk melakukan pemeriksaan dan pemeliharaan saluran, termasuk pembersihan lumpur serta pengerukan sedimentasi,” jelasnya.

Menurut Jen, aspek tersebut juga telah diperhitungkan dalam perencanaan proyek. Meski demikian, keberadaan manhole perlu diikuti dengan pemeliharaan berkala agar saluran tetap berfungsi optimal. Tanpa perawatan yang memadai, penumpukan sedimen berpotensi mengurangi kapasitas aliran air.
Proyek Rp19,16 Miliar Dikerjakan 217 Hari
Berdasarkan informasi pekerjaan, proyek peningkatan saluran sekunder Inhutani (lanjutan) tersebut memiliki nilai kontrak sebesar Rp19.161.030.000 dengan waktu pelaksanaan 217 hari kalender.
Pekerjaan dilaksanakan oleh PT Unit Enam Konstruksi dengan konsultan PT Tata Bumi Konsultan. Proyek tersebut tercatat menggunakan nomor kontrak 092.14/1.03.06.2.01.0024-02/SDA/V/2026, dengan subkegiatan peningkatan sistem drainase perkotaan.
“Adapun pekerjaan lanjutan saluran Inhutani tersebut direncanakan mencapai kawasan depan restoran siap saji KFC, hingga melanjutkan penanganan saluran yang belum dikerjakan sampai RS Siloam,” tutupnya.
Dengan nilai anggaran yang mencapai Rp19 miliar lebih, masyarakat tentu berharap pembangunan ini tidak sekadar menghasilkan perubahan fisik berupa drainase tertutup dan trotoar baru.
Lebih dari itu, hasil pekerjaan harus mampu menjawab persoalan mendasar, yakni memperlancar aliran air dan mengurangi risiko banjir di kawasan Jalan MT Haryono.
Penjelasan teknis dari Dinas PU menjadi bagian penting untuk menjawab keraguan warga. Namun, pembuktian sesungguhnya akan terlihat setelah seluruh pekerjaan rampung dan saluran tersebut berfungsi ketika menghadapi curah hujan tinggi. (*/fa/ra)