BALIKPAPAN, Berandakaltim.com – Ratusan warga dari 7 rukun tetangga (RT) di dua kelurahan berbeda yakni Kelurahan Sungai Nangka dan Damai Bahagia melakukan aksi penutupan akses jalan di Jalan ZA Maulani Balikpapan sebagai bentuk protes karena pasokan air bersih tidak mengalir selama kurang lebih 10 hari, Selasa (23/6/2026).
Aksi yang dilakukan warga di Kampung Buton ini adalah puncak dari kekecewaan terhadap pelayanan Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) atau biasa disebut dengan PDAM Balikpapan.
Aksi spontan sekitar 250 orang lebih tersebut melibatkan warga RT 21, 22, 23, 24, dan 44 Kelurahan Sungai Nangka, serta warga RT 41 dan 42 Kelurahan Damai Bahagia. Mereka membawa pengeras suara, panci, ember, gentong, hingga botol bekas air mineral sebagai simbol kekecewaan terhadap buruknya pelayanan distribusi air bersih.
Dalam aksi tersebut, warga menuntut PTMB segera mengatasi gangguan distribusi air yang menyebabkan pasokan air bersih terhenti selama lebih dari sepekan. Selain itu, mereka meminta kepastian waktu normalisasi layanan serta penjelasan terbuka mengenai penyebab gangguan yang terjadi.
Penutupan jalan menyebabkan arus lalu lintas di kawasan Jalan ZA Maulani mengalami kemacetan total. Meski aparat berupaya melakukan mediasi, warga tetap bertahan dan meminta pihak manajemen PTMB hadir langsung untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat.
Warga RT 41 Kelurahan Sungai Nangka, Roni mengungkapkan bahwa pelayanan PTMB saat ini sangat buruk dan tidak sebanding dengan kewajiban pelanggan yang tetap harus membayar tagihan setiap bulan. Salah satunya adalah pelayanan air bersih kepada masyarakat.
“Kami sangat kecewa karena air sudah berhari-hari tidak mengalir. Sementara kami tetap diwajibkan membayar tagihan tepat waktu dan dikenakan denda jika terlambat,” ujar Roni.
Hal serupa juga disampaikan Udin, warga RT 24 Sungai Nangka, Kecamatan Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan. Ia mengatakan terhentinya pasokan air bersih selama 10 hari telah mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat. Berbagai upaya telah dilakukan warga, termasuk membeli air tandon, namun kondisi tersebut tetap memberatkan.
“Kami sudah berulang kali menanyakan kepada pihak PDAM terkait pelayanan air bersih yang tidak mengalir. Namun, setiap kali menghubungi call center PTMB, jawaban yang diberikan justru membuat warga semakin kecewa,” ujarnya.

Menurut Udin, warga menginginkan manajemen PTMB datang langsung ke lokasi untuk memberikan penjelasan yang jelas dan terbuka mengenai penyebab gangguan serta langkah penanganannya.
“Apabila ada solusi atau keputusan yang akan disampaikan, kami meminta pihak PTMB hadir dan menjelaskan secara langsung kepada warga. Setelah ada kejelasan dan kesepakatan bersama, jalan akan kami buka kembali,” tegasnya.
Tak hanya warga Kampung Buton, warga kawasan BDS 2 juga mengaku mengalami kondisi serupa. Pasokan air bersih di wilayah tersebut dilaporkan tidak mengalir selama 11 hari, sehingga warga terpaksa membeli air tandon maupun air tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Sudah 11 hari air tidak mengalir. Jika tidak ada perbaikan dari PDAM, warga BDS 2 juga akan melakukan aksi seperti yang dilakukan warga Kampung Buton. Oleh karena itu, warga BDS 2 berharap pihak PDAM Balikpapan juga memberikan perhatiannya kepada kami,” ujar Rani.
Menanggapi keluhan warga, Manajer Distribusi PTMB, Indra Gunawan, dihadapan ratusan warga yang mulai emosi, menyampaikan permohonan maaf atas gangguan pelayanan yang terjadi. Gangguan itu, ujarnya, bermula saat dilakukan perbaikan pipa air baku di tiga titik.
“Setelah perbaikan selesai dan aliran kembali dibuka, distribusi air ternyata belum berjalan normal, terutama di wilayah sekitar depan terminal,” kata Indra.
“Gangguan ini tidak hanya berdampak pada wilayah Kampung Buton, tetapi juga kawasan BDS. Kami telah memasang valve pada jalur distribusi menuju BDS dan melakukan pengecekan bertahap pada setiap segmen jaringan untuk mencari titik gangguan,” jelasnya. (*/fa/ra)