BALIKPAPAN, Berandakaltim.com – Sarana dan prasarana di SDN 022 Balikpapan Barat pada tahun ajaran 2026/2027 kondisinya memprihatinkan. Di sekolah ini, ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) mengalami kerusakan berat akibat atap yang jebol.
Selain itu, musala yang berada di lingkungan sekolah juga terancam roboh karena pergerakan tanah, hingga sekolah juga menghadapi krisis air bersih yang mengganggu aktivitas belajar mengajar.
Kerusakan paling mencolok terjadi pada bangunan UKS. Atap yang terbuat dari seng telah rusak parah akibat korosi hingga berlubang. Saat hujan turun, air langsung masuk ke dalam ruangan dan membasahi perlengkapan UKS sehingga menghambat pelayanan kesehatan bagi siswa.
Seorang guru di SDN 022 Balikpapan Barat mengaku sempat berinisiatif memperbaiki atap tersebut secara swadaya. Namun niat itu dibatalkan setelah diketahui rangka atap menggunakan baja ringan yang memerlukan peralatan khusus.
“Atap bangunan yang dimanfaatkan untuk ruang UKS ini sudah lama rusak. Awalnya akan saya perbaiki sendiri jika rangka atap terbuat dari kayu. Tapi setelah tahu rangka atap terbuat dari baja ringan, saya urungkan karena untuk memperbaiki atap harus menggunakan peralatan khusus,” ujarnya.
Kerusakan tersebut berdampak langsung terhadap fungsi utama UKS sebagai tempat pemberian pertolongan pertama, pemeriksaan kesehatan ringan, dan ruang istirahat bagi siswa yang sakit.
Tak hanya itu, kondisi musala sekolah juga sangat mengkhawatirkan. Bangunan mengalami kemiringan akibat longsornya siring penahan tanah. Dinding musala pun dipenuhi retakan sehingga dinilai tidak lagi aman digunakan.
Salah seorang guru SDN 022 Balikpapan Barat, Suprihatin ditemui media ini mengatakan, pihak sekolah memutuskan menghentikan penggunaan musala demi menghindari risiko yang dapat membahayakan siswa.
“Untuk saat ini musala tidak kami manfaatkan untuk kegiatan ibadah anak-anak karena kondisi bangunan sudah mengkhawatirkan. Kami khawatir jika tetap digunakan dan dipenuhi siswa, terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” kata Suprihatin.
Menurutnya, kerusakan pada musala telah terjadi cukup lama. Namun hingga kini belum dapat diperbaiki karena sekolah tidak memiliki anggaran. Untuk mencegah kerusakan tambah parah, lokasi longsor terpaksa ditutup sejumlah terpal berwarna biru. Akibatnya, seluruh kegiatan keagamaan siswa terpaksa dipindahkan ke lapangan sekolah.
“Untuk kegiatan keagamaan terpaksa kami gelar di lapangan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, terutama saat kondisi bangunan dinilai tidak aman,” ujarnya.
Selain persoalan bangunan, SDN 022 Balikpapan Barat juga mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Selama ini sekolah hanya mengandalkan air hujan yang ditampung sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari.
Saat musim kemarau atau hujan tidak turun dalam waktu lama, sekolah meminta setiap siswa membawa sebotol air dari rumah untuk digunakan di toilet.
“Jika musim kemarau atau hujan tak kunjung turun, anak-anak kami minta membawa air satu botol dari rumah masing-masing untuk digunakan saat ke toilet karena tidak ada air di sekolah,” ungkap Suprihatin.
Untuk memenuhi kebutuhan air, pihak sekolah terkadang membeli air dari warga sekitar dengan menggunakan selang guna mengisi bak penampungan toilet. Namun upaya tersebut bergantung pada ketersediaan air di rumah warga. Sedangkan, pengiriman air menggunakan mobil tangki sulit dilakukan karena akses menuju sekolah terlalu sempit.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan, I Ketut Karton, yang dikonfirmasi melalui sambungan telepon maupun pesan WhatsApp belum memberikan tanggapan hingga berita ini ditulis. (*/fa/ra)